Di desa Tenganan, Bali ada sebuah tradisi unik dan khas bernama tradisi Mekare Kare. Tradisi yang sudah ada sejak era Majapahit ini terus dipelihara oleh warga desa secara turun-temurun hingga kini. Para wisatawan menjadikan desa Tenganan, Karangasem Bali Timur sebagai destinasi wajib untuk dikunjungi.

Bila Anda melakukan wisata di wilayah Bali timur, tradisi ini wajib untuk dinikmati. Para warga desa Tenganan memegang teguh adat secara murni. Hingga saat ini, para warga desa hidup tanpa campuran adat dan budaya modern.

Budaya kuno khas Bali memang menjadi nilai seni yang menjadi nilai tarik destinasi wisata ini. Selain itu, beragam kerajinan khas kesenian kuno dan beragam adat tradisi yang tetap dipelihara. Bila Anda memang senang menikmati wisata adat kuno, cobalah untuk berkunjung menikmati tradisi Mekare Kare.

Pengalaman yang unik dan tidak dapat ditemui di mana pun menjadi hal yang mahal bagi wisatawan. Tradisi ini hanya dilakukan satu kali dalam setahun, biasanya di bulan Juni. Pengalaman berwisata di desa ini tentu menjadi pengalaman yang berkesan dan berharga.

Asal dan Sejarah Tradisi Mekare Kare

Dikisahkan pada zaman dahulu terdapat seorang raja bernama raja Maya Denawa. Raja Maya Denawa sudah dikenal oleh rakyatnya sebagai raja yang kejam dan lalim. Raja jahat ini menuntut segenap rakyatnya untuk menyembahnya.

Lalu Dewa Indera diutus oleh khayangan agar membuat Maya Denawa sadar akan adanya Dewa yang lebih tinggi. Namun Maya Denawa tidak percaya. Raja Maya Denawa kemudian menimbulkan keributan. Siapa yang menyangka, keributan yang ditimbulkan Raja Maya Denawa kemudian memicu terjadinya perang.

Raja Maya Denawa pun mengalami kekalahan dalam peperangan tersebut. Tradisi Mekare Kare merupakan simbol dari peperangan yang dilakukan oleh Maya Denawa yang berhasil dikalahkan oleh dewa dan sebagai penghormatan kepada Dewa. Kemudian lokasi tempat berlangsungnya perang saat itu sudah menjadi kotor.

Hal ini dikarenakan raja Maya Denawa yang kejam meninggal di situ. Upacara penyucian kemudian dilakukan untuk membersihkan tempat tersebut. Penyucian dilakukan dengan menyembelih kuda sakti milik Dewa Indera. Karena tahu ia akan dikorbankan, kuda sakti itu melarikan diri ke salah satu daerah Karangasem, yaitu desa Tenganan.

Kekhasan Adat yang Terus Dipelihara

Dari tahun ke tahun, tradisi ini terus dipelihara sebagai salah satu wujud ibadah kepada Dewa Indra. Dalam kepercayaan masyarakat desa tersebut, Dewa Indra adalah Dewa Perang sekaligus Dewa tertinggi. Kepercayaan Hindu yang dianut memang sedikit berbeda dengan Hindu di Indonesia yang mempercayai Dewa Tri Murti.

Dalam pelaksanaan tradisi Mekare Kare, warga desa biasanya memerlukan waktu selama dua hari melakukan upacara. Selama upacara, warga perempuan memakai pakaian adat khas kain tenun, sedangkan warga laki-laki menggunakan pakaian adat dengan sarung serta ikat kepala dengan bertelanjang dada.

Mereka akan melaksanakan perang menggunakan tumbuhan pandan yang berduri serta rotan. Namun untuk berperang, hanya warga laki-laki dengan usia lebih dari 18 tahun yang boleh mengikuti. Tradisi ini simbol dari permohonan untuk dilindungi selalu dan diberikan keselamatan oleh Dewa Indra.

Destinasi Favorit para Wisatawan

Karena pelaksanaannya hanya setahun sekali, untuk memudahkan penjangkauan biasanya para wisatawan menggunakan paket wisata di Bali. Karena hanya diadakan setahun sekali, tidak heran jika masyarakat sangat menanti momen ini. Selain itu, wilayah desa yang masih asri dengan adat kuno menjadi ketertarikan tersendiri.

Pelaksanaan tradisi Mekare Kare tidaklah lama, hanya kurang lebih 1 menit saja. Ada dua kubu yang berperang menggunakan rotan serta pandan sebagai tameng. Peperangan diiringi menggunakan instrumen gamelan Bali. Setelah 1 menit, peserta perang bergantian sehingga pertandingan akan berlangsung maksimal bisa mencapai 3 jam.

Setelah melakukan perang, ada kemungkinan peserta yang terluka di bagian punggung. Luka kemudian diolesi ramuan obat tradisional yang terbuat dari kunyit untuk memulihkan luka. Perang ini mengajarkan adanya ketulusan hati untuk saling memaafkan meskipun ada konflik dan saling menyakiti dalam pertandingan sebelumnya.

Sebagai persembahan kepada Dewa Indera yang telah melindungi rakyat, tradisi ini masih dilakukan sebagai bentuk ibadah tahunan yang terus dipelihara. Sayang sekali bila di Bali Anda hanya mengunjungi destinasi wisata. Berwisata dengan melihat tradisi Mekare Kare lebih dekat tentu menarik.